PENGENDALIAN RISIKO PEMBIAYAAN BAGI HASIL DI PERBANKAN SYARIAH

PENGENDALIAN RISIKO PEMBIAYAAN BAGI HASIL DI PERBANKAN SYARIAH

Oleh: Elvie Sukaesih, Siti Mutmainah, Khoirul Abidin

Dalam literatur ekonomi islam dan perbankan yang dipublikasikan dalam rentang waktu antara 1960-an, dijelaskan bank- bank syariah dikonsepkan sebagai lembaga keuangan, dimana keseluruhan pinjaman bisnis yang diberlakukan kepada pengusaha (nasabah) berdasarkan prinsip bagi hasil (profit and loss sharing).1 Hal ini juga terjadi di tanah air. Kondisi ini sebenarnya menurut Adhiwarman Karim lebih daripada untuk membedakan antara bank syariah dan bank konvensional yang beroperasi dengan sistem bunga. Meskipun demikian, bank-bank islam sejauh ini tidak dapat dimungkiri murni menggunakan sistem bagi hasil, namun lebih memperluas penggunaannya kepada metode pembiayaan lainnya seperti jual beli, leasing dan yang lain sebagainya.

Dalam praktiknya, bank syariah lebih banyak menggunakan skim murabahah (pembiayaan dengan prinsip jual-beli) dalam penyaluran pembiayaan. Karakteristik murabahah yang pasti dalam besaran angsuran dan margin juga melahirkan persepsi bahwa penggunaan akad murabahah dapat mengurangi tingkat risiko pembiayaan (Yuliani, 2015).

Masih rendahnya porsi pembiayaan bagi hasil atau dominasi pembiayaan nonbagi hasil terutama murabahah pada portofolio pembiayaan bank syariah ternyata merupakan fenomena global, tidak terkecuali di Indonesia. Fenomena ini disebabkan karena pembiayaan berbasis bagi hasil cenderung memiliki risiko lebih besar jika dibandingkan dengan pembiayaan lainnya. Walaupun prinsip bagi hasil menjadi ciri khas bank syariah, namun risiko yang dihadapi cukup besar yaitu risiko Terjadinya moral hazard dan biaya transaksi tinggi (Arnan dan Kurniawasih, 2014). Fenomena rendahnya pembiayaan berbasis bagi hasil merupakan permasalahan penting yang perlu dibahas dan dicari solusi yang tepat. Rendahnya pembiayaan berbasis bagi hasil cenderung merupakan masalah multi dimensi yang telah terjadi sejak lama dan tidak ada kecenderungan untuk berubah. Implikasi dari tingginya pembiayaan non bagi hasil ini adalah terbentuknya persepsi publik bahwa bank syariah hampir tidak ada bedanya dengan bank konvensional (Ascarya dan Yumanita, 2005).

Apa yang menyebabkan pembiayaan dalam perbankan syariah rendah dan bagaimana pengendalian risiko pembiayaan bagi hasil di Perbankan Syariah?

Selengkapnya..

==>201925102250_Tugas_Manajemen_Keuangan_Syariah_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *