Tugas Manajemen Keuangan Syariah

Pandangan Islam Mengenai Time Value of Money

oleh Elvie Sukaesih, Khairul Abidin, dan Siti Mutmainah (ITB Ahmad Dahlan, 2019)

Sejalan dengan arus globalisasi dan perkembangan teknologi besarbesaran di dunia, alat tukar untuk bertransaksi melakukan pembayaran ikut serta berkembang baik dalam hal pembayaran barang, jasa maupun transaksi lain guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Uang menjadi hal yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tanpa uang, manusia tidak dapat memenuhi kebutuhan maupun keinginannya. Bahkan dizaman sekarang, orang cenderung beranggapan bahwa semua hal yang dilakukan didunia ini menggunakan uang sehingga tidak jarang manusia melakukan segala cara untuk mendapatkan uang, baik dengan cara yang halal, maupun dengan cara yang haram. Uang memiliki berbagai fungsi yang berbeda, seperti sebagai alat tukar nilai, media pertukaran, nilai simpanan dan standar pembayaran yang tertunda. Dalam pandangan ahli ekonomi, fungsi sebagai media pertukaran merupakan yang paling penting. Dalam sejarah, jauh sebelum uang lahir dan dimanfaatkan sebagai alat tukar telah banyak barang-barang lain yang dipakai untuk menukar sesuatu seperti emas, perak, kerang, gigi binatang, kulit dan sebagainya. Islam memandang bahwa uang ialah sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia berikut juga ia telah menjadi kebutuhan bagi masyarakat karena uang merupakan sarana untuk terjadinya penukaran barang (komoditi). Sebagai alat tukar uang sangat dibutuhkan untuk pemenuhan kebutuhan akan tetapi dalam perspektif ekonomi Islam uang bukanlah penentu segala-galanya. Ibn Khaldun secara jelas mengemukakan bahwa emas dan perak selain berfungsi sebagai uang juga digunakan sebagai medium pertukaran dan alat pengukuran nilai sesuatu. Dalam bukunya memaparkan sebagai berikut: “Kemudian, Allah ta’ala menciptakan dua logam mulia, emas dan perak, sebagai ukuran nilai yang semua akumulasi modal. Demikianlah penduduk dunia, seringkali, menganggapnya sebagai harta kekayaan dan hak milik. Dan bila dalam keadaan tertentu barang-barang lan dicari, itu tidak lain demi tujuan yang secara puncak hanya memperoleh emas dan perak. Keduanya merupakan dasar dari keuntungan, kekayaan dan hak milik”. Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Al-Ghazali, Ibn Khaldun mengatakan bahwa uang itu tidak harus mengandung emas dan perak, hanya saja emas dan perak dijadikan standar nilai uang, sementara pemerintah menetapkan harganya secara konsisten. Oleh karena itu, Ibn Khaldun menyarankan agar harga emas dan perak itu konstan meskipun harga-harga lain berfluktuasi. (Euis Amalia, 2005: 248).

Selengkapnya… 201919100950_Tugas_Manajemen_Keuangan_Syariah (2)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *